Selamat Datang Di Blog OSIS SMP NEGERI 1 BOJONG PANDEGLANG
RSS

Mading Nebosa

KEJUTAN DI HARI ULANG TAHUN




 

 PAGI itu, Agus berangkat ke sekolah dengan raut yang sangat kesal. Kenapa? Karena hari ini dia berulangtahun. Sayangnya, kedua orangtuanya tak ada memberinya kado. Jangankan kado, ucapan selamat saja dia tidak mendapat. Ibunya masih sibuk mengurusi Dinda, adik semata wayangnya yang berusia 1 tahun. Sedangkan ayahnya, hanya duduk membaca koran sambil sesekali menyeruput kopi.

“Huh, ayah dan ibu sama saja. Nggak inget kalau hari ini aku ulang tahun. Apa iya, gara-gara Dinda, ibu jadi lupa sama ulang tahunku. Uh, sebel,” ucapnya sambil menggerutu kesal. Bahkan, sampai kesalnya, Agus tak mau berpamitan atau mengucap salam.

Setelah Agus berangkat, ayah dan ibu berpandangan sambil tersenyum. “Anak itu, belum apa-apa sudah ngambek,” kata ayah yang disambut senyum manis ibu.

(***)
Selama di sekolah, Agus tak konsen dengan pelajaran yang diberikan Bu Novi, wali kelasnya. Raut mukanya masih sama seperti tadi pagi. Bahkan lebih kesal lagi.

Karena, teman-temannya, tak satu pun yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Bahkan Bu Rini yang tak pernah lupa dengan ulang tahun siswanya juga mendadak lupa.

Semakin tambah kesal Agus, siswa kelas 7 SMPN 1 Bojong ini. Bahkan, saat teman-temannya bertanya hal kecil padanya, ia mendadak jutek.

(***)
“Kok bapak yang jemput saya, emang ayah ke mana?” tanya Agus pada Pak Ujang, tukang ojek langganan keluarganya.

“Em, bapak lagi ada rapat, mas. Jadi nggak bisa jemput,” jawab Pak Ujang sambil terbata-bata.

“Terus ibu?”

“Ibu lagi di rumah, jaga Dinda. Kan mbak Tininya lagi nggak masuk.”

“Ugh, kenapa sih orang-orang hari ini pada nyebelin banget! Nggak di rumah, nggak di sekolah, pada nyebelin semua. Padahal kan Agus sekarang ulang tahun. Kenapa nggak ada yang baik-baik sama Agus. Jangankan kasih kado, kasih ucapan selamat aja nggak ada. Pokoknya nyebelin banget hari ini. Udah, pak, kita jalan. Agus laper tapi jangan pulang ke rumah!”

“Terus kalau nggak ke rumah, ke mana dong mas?”

“Pokoknya ke mana aja deh. Pokoknya Agus mau makan tapi nggak di rumah.”

Agak kaget juga Pak Ujang saat Agus marah. Sebab, ia jarang sekali melihat putra keluarga langganannya ini marah-marah. Pak Ujang berfikir sejenak. Tak lama kemudian, ia tersenyum.

“Mas, gimana kalau makan di rumah makan yang biasanya mas sama ayah ibu makan. Itu yang di sana,” tunjuk Pak Ujang ke pusat kota.

Agus menengok tajam ke arah Pak Ujang. “Memang Pak Ujang punya uang?”

“Hehehe, enak aja, biarpun cuma tukang ojek, kalau cuma buat bayarin Mas Agus, uangnya bapak juga masih banyak. Memang Mas Agus mau makan berapa porsi? Yah, anggap saja ini kado buat mas. Gimana?”

Tanpa babibu, Agus pun langsung menunduk. Seketika ia tersenyum ceria. “Terima kasih Pak Ujang. Biarpun bapak bukan orangtua saya, tapi bapak udah kayak ayah. Nanti kalau Agus udah gede terus bisa cari uang sendiri, Agus ganti deh, Pak.” Mendengar itu, Pak Ujang tersenyum terharu.

(***)
Setiba di rumah makan favoritnya, Agus langsung berlari meninggalkan Pak Ujang yang berjalan pelan di belakangnya. Namun, saat ia membuka pintu, tara……….

“Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur kita kan doakan. Selamat sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia.”

Ayah, ibu, Dinda, Mbak Tini, Bu Rini, dan semua teman-temannya menyanyikan lagu ini untuknya. Khusus untuknya.

Ternyata, mereka ini hanya berpura-pura. Tak terasa, air mata Agus pun jatuh. Ia malu karena telah berburuk sangka dengan kedua orangtuanya, guru, dan temannya.

Kejutan ini terasa lebih spesial baginya. Bahkan sangat spesial. Melebihi ucapan selamat atau kado. Selamat ulang tahun, Agus. (*)










Nama Penulis : Amel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar