PAGI itu, Agus berangkat ke sekolah dengan
raut yang sangat kesal. Kenapa? Karena hari ini dia berulangtahun. Sayangnya,
kedua orangtuanya tak ada memberinya kado. Jangankan kado, ucapan selamat saja
dia tidak mendapat. Ibunya masih sibuk mengurusi Dinda, adik semata wayangnya
yang berusia 1 tahun. Sedangkan ayahnya, hanya duduk membaca koran sambil
sesekali menyeruput kopi.
“Huh, ayah dan ibu sama saja. Nggak inget kalau
hari ini aku ulang tahun. Apa iya, gara-gara Dinda, ibu jadi lupa sama ulang
tahunku. Uh, sebel,” ucapnya sambil menggerutu kesal. Bahkan, sampai kesalnya,
Agus tak mau berpamitan atau mengucap salam.
(***)
Selama di sekolah, Agus tak konsen dengan pelajaran yang diberikan Bu Novi, wali kelasnya. Raut mukanya masih sama seperti tadi pagi. Bahkan lebih kesal lagi.
Selama di sekolah, Agus tak konsen dengan pelajaran yang diberikan Bu Novi, wali kelasnya. Raut mukanya masih sama seperti tadi pagi. Bahkan lebih kesal lagi.
Karena, teman-temannya, tak satu pun yang
mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Bahkan Bu Rini yang tak pernah lupa
dengan ulang tahun siswanya juga mendadak lupa.
Semakin tambah kesal Agus, siswa kelas 7 SMPN 1
Bojong ini. Bahkan, saat teman-temannya bertanya hal kecil padanya, ia mendadak
jutek.
(***)
“Kok bapak yang jemput saya, emang ayah ke mana?” tanya Agus pada Pak Ujang, tukang ojek langganan keluarganya.
“Kok bapak yang jemput saya, emang ayah ke mana?” tanya Agus pada Pak Ujang, tukang ojek langganan keluarganya.
“Em, bapak lagi ada rapat, mas. Jadi nggak bisa
jemput,” jawab Pak Ujang sambil terbata-bata.
“Terus ibu?”
“Ibu lagi di rumah, jaga Dinda. Kan mbak Tininya
lagi nggak masuk.”
“Ugh, kenapa sih orang-orang hari ini pada
nyebelin banget! Nggak di rumah, nggak di sekolah, pada nyebelin semua. Padahal
kan Agus sekarang ulang tahun. Kenapa nggak ada yang baik-baik sama Agus.
Jangankan kasih kado, kasih ucapan selamat aja nggak ada. Pokoknya nyebelin
banget hari ini. Udah, pak, kita jalan. Agus laper tapi jangan pulang ke
rumah!”
“Terus kalau nggak ke rumah, ke mana dong mas?”
“Pokoknya ke mana aja deh. Pokoknya Agus mau
makan tapi nggak di rumah.”
Agak kaget juga Pak Ujang saat Agus marah. Sebab,
ia jarang sekali melihat putra keluarga langganannya ini marah-marah. Pak Ujang
berfikir sejenak. Tak lama kemudian, ia tersenyum.
“Mas, gimana kalau makan di rumah makan yang
biasanya mas sama ayah ibu makan. Itu yang di sana,” tunjuk Pak Ujang ke pusat
kota.
Agus menengok tajam ke arah Pak Ujang. “Memang
Pak Ujang punya uang?”
“Hehehe, enak aja, biarpun cuma tukang ojek,
kalau cuma buat bayarin Mas Agus, uangnya bapak juga masih banyak. Memang Mas
Agus mau makan berapa porsi? Yah, anggap saja ini kado buat mas. Gimana?”
Tanpa babibu, Agus pun langsung menunduk.
Seketika ia tersenyum ceria. “Terima kasih Pak Ujang. Biarpun bapak bukan
orangtua saya, tapi bapak udah kayak ayah. Nanti kalau Agus udah gede terus bisa
cari uang sendiri, Agus ganti deh, Pak.” Mendengar itu, Pak Ujang tersenyum
terharu.
(***)
Setiba di rumah makan favoritnya, Agus langsung berlari meninggalkan Pak Ujang yang berjalan pelan di belakangnya. Namun, saat ia membuka pintu, tara……….
Setiba di rumah makan favoritnya, Agus langsung berlari meninggalkan Pak Ujang yang berjalan pelan di belakangnya. Namun, saat ia membuka pintu, tara……….
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat
panjang umur kita kan doakan. Selamat sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang
umur dan bahagia.”
Ayah, ibu, Dinda, Mbak Tini, Bu Rini, dan semua
teman-temannya menyanyikan lagu ini untuknya. Khusus untuknya.
Ternyata, mereka ini hanya berpura-pura. Tak
terasa, air mata Agus pun jatuh. Ia malu karena telah berburuk sangka dengan
kedua orangtuanya, guru, dan temannya.
Kejutan ini terasa lebih spesial baginya. Bahkan
sangat spesial. Melebihi ucapan selamat atau kado. Selamat ulang tahun, Agus.
(*)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar